<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jembatak Teluk Kendari | KendariAktual.com</title>
	<atom:link href="https://www.kendariaktual.com/topic/jembatak-teluk-kendari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.kendariaktual.com</link>
	<description>Tajam &#38; Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Jan 2021 12:20:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.kendariaktual.com/wp-content/uploads/2020/07/Kendari-Aktual-90x90.png</url>
	<title>Jembatak Teluk Kendari | KendariAktual.com</title>
	<link>https://www.kendariaktual.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hikayat Teluk Kendari, Papalimbang yang Tergerus Megahnya Jembatan</title>
		<link>https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/</link>
					<comments>https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[KendariAktual]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2021 12:20:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kendari]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan teluk kendari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kendariaktual.com/?p=6060</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Suara bising nan khas itu lenyap sudah, ia punah bukan karena termakan <a class="read-more" href="https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/" title="Hikayat Teluk Kendari, Papalimbang yang Tergerus Megahnya Jembatan" itemprop="url">Selengkapnya</a></p>
The post <a href="https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/">Hikayat Teluk Kendari, Papalimbang yang Tergerus Megahnya Jembatan</a> first appeared on <a href="https://www.kendariaktual.com">KendariAktual.com</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>“Suara bising nan khas itu lenyap sudah, ia punah bukan karena termakan zaman. Ia musnah atas kemegahan, yang gemerlapnya justru menenggelamkan hikayat kotanya”</em></p>
</blockquote>
<p>Penulis: Randi Ardiansyah<br />
<a href="http://KENDARIAKTUAL.COM"><b>KENDARIAKTUAL.COM</b></a><b>, KENDARI &#8211;</b> Papalimbang (Ojek Perahu), begitulah masyarakat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) akrab menyebut moda transportasi laut yang ada di Teluk Kendari.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Hampir tak ada jeda, satu persatu perahu bermesin tempel (Katinting) hilir mudik mengangkut penumpang serta barang, dari kawasan Kota Lama, kecamatan Kendari ke kawasan seberang di kecamatan Abeli.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Keberedaan papalimbang, dahulu menjadi primadona. Sebab orang-orang dari ke dua tempat itu, dapat memangkas waktu perjalan mereka 15 hingga 20 menit dengan menggunakan perahu. Ketimbang menggunakan moda transportasi darat, yang harus menyusuri jalan kota yang jauh nan mahal.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Namun, seiring dengan waktu kemajuan kota dan ambisius pemerintah untuk memegahkan Kota Kendari, membuat para papalimbang pelan-pelan tersisihkan.</p>
<p>Pangkalan mereka yang ada di Kota Lama pun, perlahan hilang bersamaan dengan digusurnya kawasan pecinan guna pembangunan Jembatan Bahteramas yang kemudian berganti nama menjadi Jembatan Teluk Kendari (JTK) pada tahun 2015. <span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Jembatan itu dibangun tentu untuk mempermudah akses warga yang tinggal di<span class="Apple-converted-space">  </span>kecamatan Abeli dan Kandai. Namun, infrastruktur modern, membuat masyarakat meninggalkan papalimbang sebagai moda transporasi andalan.</p>
<p>Terlebih, di masa sulit pandemi Covid-19 saat ini. Tentu semakin membuat para pelaku papalimbang yang menggantungkan hidup pada profesi itu semakin galau.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>La Ode Alifu, menjadi saksi hidup perjalanan papalimbang sejak tahun 70 an hingga kemudian kini nasib palalimbang seperti mati suri. Ia yang mulai profesi itu sejak 1979 mengaku, telah banyak hal yang ia saksikan dan lalui.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Sudah sekitar 40 tahun saya jadi papalimbang, hidup dan menghidupi keluarga dari pekerjaan ini. Alhamdulillah sampai anak-anak sekolah dan sekarang sudah besar,” ungkapnya, saat ditemui di dermaga tempat perahu miliknya terpakir, Sabtu (9/1/2021).<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Alifu menjelaskan, sebelum adanya jembatan perahu miliknya tak pernah berhenti beroperasi. Saban hari, ia sibuk mengantarkan penumpang untuk menyeberangi teluk. Bahkan, ia bisa meraup rupiah Rp200 ribu hingga Rp300 ribu perharinya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Dulu, bisa sampai sepuluh kali kita bolak balik antar penumpang. Apalagi dulu transportasi masih terbatas, dan memang orang-orang lebih suka naik perahu untuk menyeberang karena dekat,” ujarnya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Untuk sekali penyeberangan, Alifu dan teman-temannya sesama papalimbang mematok tarif Rp5 ribu perorang. Namun tarif itu berlaku, bila jumlah penumpang di atas enam orang dalam satu kali perjalanan. Bila jumlah penumpang tidak mencapai 6 orang, maka tarif yang kenakan pun berbeda yakni Rp10 ribu hingga Rp20 perorang.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Di tempatnya, yakni di Dermaga Lapulu, terdapat belasan papalimbang yang kini hanya bisa memarkirkan katinting miliknya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menolak Menyerah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_6065" aria-describedby="caption-attachment-6065" style="width: 803px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-6065 size-full" src="https://www.kendariaktual.com/wp-content/uploads/2021/01/Image-09-01-21-at-19.48-e1610194228716.webp" alt="" width="803" height="480" /><figcaption id="caption-attachment-6065" class="wp-caption-text">Ketgam: La Ode Alifu bersama beberapa warga dan papalimbang tak letih duduk di dermaga menanti penumpang yang akan di antarnya untuk menyeberangi teluk dari dermaga Lapulu ke dermaga Sanggula, di Kota Lama, Sabtu (9/1/2021). Foto: Randi Ardiansyah/ Kendariaktual.com</figcaption></figure>
<p>La Ode Alifu hanya bisa termangun, menyaksikan sebuah jembatan megah membentang di atas Teluk Kendari. Megah, namun baginya menyesakkan.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Saban hari, ia tak letih duduk di dermaga menanti penumpang yang akan di antarnya untuk menyeberangi teluk dari dermaga Lapulu ke dermaga Sanggula, di Kota Lama.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Ia menolak menyerah, meski kenyataannya tak lagi ada penumpang yang akan menggunakan jasanya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Tiap hari hanya duduk di sini, sambil tunggu-tunggu penumpang. Walau pun sebenarnya sekarang sudah tidak ada,” ucapnya sedikit tersenyum.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Alifu tidak sendiri, Kadang ia bersama dengan rekannya sesama papalimbang duduk bersantai dipinggir teluk. Tubuh rentanya tak juga menyerah.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Agar dapur tetap mengepul, Alifu terpaksa bekerja serabutan, mulai menjadi kuli bangunan hingga menjadi kuli di pelelangan Ikan yang ada di kecamatan Kendari Barat.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Kadang kalau ada yang panggil untuk jadi kuli, itu saja yang kita kerja. Mau apalagi, kita semua di sini menggantungkan hidup dari papalimbang ini,” ungkapnya.</p>
<p>Beberapa kali, Alifu mendapatkan penumpang yang sekadar hanya ingin bersua foto di teluk dengan latar jembatan.</p>
<p>Ia mengaku, meski tidak banyak namun keberadaan orang-orang yang masih ingin menggunakan jasa papalimbang membuatnya sedikit senang.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Kemarin ada orang, tapi hanya mau berfoto saja. Tidak banyak juga, tapi paling tidak mereka masih mau gunakan jasa kami. Kita mau berharap di situ, tapi hanya satu dua orang saja yang berfoto,” bebernya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Adu Gaduh yang Acuh</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbagai upaya telah ditempuh Alifu dan papalimbang lainnya, aksi unjuk rasa hingga protes pun telah dilakukan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Namun, hingga saat ini belum mendapat tanggapan, bahkan solusi.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Kita minta solusi saja agar bagaimana papalimbang bisa beroperasi kembali, karena hanya ini sumber penghasilannya kami. Hanya itu saja harapannya kita,” ujarnya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Sementara itu, Jamaria pemilik pangkalan perahu, mengaku, sejak beroperasi JTK ia harus rela kehilangan pendapatan. Tidak hanya pendapatan dari sewa parkiran perahu, ia bahkan harus menerima kenyataan warung makan miliknya tutup.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Selama ada jembatan sudah tidak ada penumpang, semua sudah mengeluh tidak ada lagi penghasilan. Apalagi kami ini hanya bergantung di pekerjaan ini, warung saya juga tutup karena mau layani siapa,” katanya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Menurut, Jamaria, sepinya penumpang tidak hanya berdampak pada papalimbang. Akan tetapi, juga berdampak pada tukang ojek yang sehari-harinya mangkal di dermaga tersebut.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Di sini ada sekitar 50 papalimbang yang Parkir di sini. Belum ada solusi dari pemerintah kota. Saya punya motor saja juga sudah tidak jalan, jualanku juga mati. Kita ingin di kasih solusi biar bisa jalan lagi usaha kami,” harapnya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemerintah dan Rencana Pemberdayaan Papalimbang<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lima tahun tergeser akibat dampak pembangunan teluk, ternyata Papalimbang tak mampu bangkit seperti dulu. Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 yang kebanyakan penumpang jaga jarak dan ‘ogah’ menumpanginya.</p>
<p>Bisa diprediksi, Papalimbang hanya jadi kenangan, lantaran kalah pamor dengan keberadaan JTK.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Meski begitu, Pemkot Kendari tak ingin tinggal diam membiarkan usaha ekonomi rakyat tersebut tergerus dan hilang begitu saja.</p>
<p>Walikota Kendari bahkan sudah punya planning untuk menghidupkan kembali papalimbang dengan orientasi wisata.</p>
<p>“Jadi nanti kita tawarkan beberapa aktivitas bagi papalimbang dengan mengembangkan wisata di wilayah Bungkutoko, nantinya di sana akan banyak perahu dan beberapa fasilitas yang akan ditawarkan masyarakat yang kehilangan pencaharian dengan adanya JTK,” ujarnya.</p>
<p>Pemerintah pun akan mendata jumlah papalimbang yang terdampak oleh keberadaan JTK. Hal itu demi menjaga eksistensi papalimbang di Kendari, melalui pengembangan wadah penunjang wisata teluk yang kini sudah dipercantik dengan keberadaan JTK.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jembatan Teluk Kendari</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_3881" aria-describedby="caption-attachment-3881" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-3881 size-full" src="https://www.kendariaktual.com/wp-content/uploads/2020/10/resmikan-jemmbatan.webp" alt="Resmikan JTK, Presiden Sebut Kendari Kaya Akan Potensi" width="1280" height="703" srcset="https://www.kendariaktual.com/wp-content/uploads/2020/10/resmikan-jemmbatan.webp 800w, https://www.kendariaktual.com/wp-content/uploads/2020/10/resmikan-jemmbatan-768x421.webp 768w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-3881" class="wp-caption-text">RESMIKAN JTK &#8211; Presiden RI Joko Widodo meresmikan jembatan teluk kendari. Dengan diresmikan jembatan ini Kendari memiliki potensi menjadi kota bisnis da pengembangan usaha. Foto : istimewa</figcaption></figure>
<p>Kamis 22 Oktober 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) meresmikan sebuah jembatan dengan bentang kurang lebih 1,3 kilometer dan lebar 20 meter.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Jembatan yang awalnya diberi nama Jembatan Bahteramas, dibangun di masa pemerintahan Gubernur Nur Alam dan Wakil Gubernur Saleh Lasata, pada 2015 silam dengan biaya konstruksi sebesar Rp804 miliar.</p>
<p>Namun, pada masa kepemimpinan Ali Mazi-Lukman Abunawas, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru. Jembatan tersebut berganti nama menjadi Jembatan Teluk Kendari.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Pembangunan jembatan ini bukan tanpa kendala, kawasan pecinan yang dikenal dengan sebutan Kota Lama menjadi bagian yang harus rela ditiadakan.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Beberapa bangunan yang ada di kawasan tersebut, bahkan salah satunya bioskop pertama di Kendari, juga ikut tergusur dengan pembangunan JTK.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Meski begitu, kini JTK telah menjadi ikon baru di Ibu Kota Provinsi Sultra. Ratusan hingga ribuan orang pun, telah silih berganti mengunjungi jembatan tersebut pasca diresmikan oleh Presiden Jokowi.</p>
<p>Dari atas JTK, orang-orang bisa menyaksikan keindahan teluk serta pemandangan kota. Bahkan, bisa menikmati matahari terbit (Sunrise) dan matahari terbenam (Sunset) dari atas JTK. ***</p>
<p>&nbsp;</p>The post <a href="https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/">Hikayat Teluk Kendari, Papalimbang yang Tergerus Megahnya Jembatan</a> first appeared on <a href="https://www.kendariaktual.com">KendariAktual.com</a>.]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.kendariaktual.com/hikayat-teluk-kendari-papalimbang-yang-tergerus-megahnya-jembatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
