oleh

Hikayat Teluk Kendari, Papalimbang yang Tergerus Megahnya Jembatan

“Suara bising nan khas itu lenyap sudah, ia punah bukan karena termakan zaman. Ia musnah atas kemegahan, yang gemerlapnya justru menenggelamkan hikayat kotanya”

Penulis: Randi Ardiansyah
KENDARIAKTUAL.COM, KENDARI – Papalimbang (Ojek Perahu), begitulah masyarakat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) akrab menyebut moda transportasi laut yang ada di Teluk Kendari. 

Hampir tak ada jeda, satu persatu perahu bermesin tempel (Katinting) hilir mudik mengangkut penumpang serta barang, dari kawasan Kota Lama, kecamatan Kendari ke kawasan seberang di kecamatan Abeli. 

Keberedaan papalimbang, dahulu menjadi primadona. Sebab orang-orang dari ke dua tempat itu, dapat memangkas waktu perjalan mereka 15 hingga 20 menit dengan menggunakan perahu. Ketimbang menggunakan moda transportasi darat, yang harus menyusuri jalan kota yang jauh nan mahal. 

Namun, seiring dengan waktu kemajuan kota dan ambisius pemerintah untuk memegahkan Kota Kendari, membuat para papalimbang pelan-pelan tersisihkan.

Pangkalan mereka yang ada di Kota Lama pun, perlahan hilang bersamaan dengan digusurnya kawasan pecinan guna pembangunan Jembatan Bahteramas yang kemudian berganti nama menjadi Jembatan Teluk Kendari (JTK) pada tahun 2015.  

Jembatan itu dibangun tentu untuk mempermudah akses warga yang tinggal di  kecamatan Abeli dan Kandai. Namun, infrastruktur modern, membuat masyarakat meninggalkan papalimbang sebagai moda transporasi andalan.

Terlebih, di masa sulit pandemi Covid-19 saat ini. Tentu semakin membuat para pelaku papalimbang yang menggantungkan hidup pada profesi itu semakin galau. 

La Ode Alifu, menjadi saksi hidup perjalanan papalimbang sejak tahun 70 an hingga kemudian kini nasib palalimbang seperti mati suri. Ia yang mulai profesi itu sejak 1979 mengaku, telah banyak hal yang ia saksikan dan lalui. 

“Sudah sekitar 40 tahun saya jadi papalimbang, hidup dan menghidupi keluarga dari pekerjaan ini. Alhamdulillah sampai anak-anak sekolah dan sekarang sudah besar,” ungkapnya, saat ditemui di dermaga tempat perahu miliknya terpakir, Sabtu (9/1/2021). 

Alifu menjelaskan, sebelum adanya jembatan perahu miliknya tak pernah berhenti beroperasi. Saban hari, ia sibuk mengantarkan penumpang untuk menyeberangi teluk. Bahkan, ia bisa meraup rupiah Rp200 ribu hingga Rp300 ribu perharinya. 

“Dulu, bisa sampai sepuluh kali kita bolak balik antar penumpang. Apalagi dulu transportasi masih terbatas, dan memang orang-orang lebih suka naik perahu untuk menyeberang karena dekat,” ujarnya. 

Untuk sekali penyeberangan, Alifu dan teman-temannya sesama papalimbang mematok tarif Rp5 ribu perorang. Namun tarif itu berlaku, bila jumlah penumpang di atas enam orang dalam satu kali perjalanan. Bila jumlah penumpang tidak mencapai 6 orang, maka tarif yang kenakan pun berbeda yakni Rp10 ribu hingga Rp20 perorang. 

Di tempatnya, yakni di Dermaga Lapulu, terdapat belasan papalimbang yang kini hanya bisa memarkirkan katinting miliknya. 

 

Menolak Menyerah

 

Ketgam: La Ode Alifu bersama beberapa warga dan papalimbang tak letih duduk di dermaga menanti penumpang yang akan di antarnya untuk menyeberangi teluk dari dermaga Lapulu ke dermaga Sanggula, di Kota Lama, Sabtu (9/1/2021). Foto: Randi Ardiansyah/ Kendariaktual.com

La Ode Alifu hanya bisa termangun, menyaksikan sebuah jembatan megah membentang di atas Teluk Kendari. Megah, namun baginya menyesakkan. 

Saban hari, ia tak letih duduk di dermaga menanti penumpang yang akan di antarnya untuk menyeberangi teluk dari dermaga Lapulu ke dermaga Sanggula, di Kota Lama. 

Ia menolak menyerah, meski kenyataannya tak lagi ada penumpang yang akan menggunakan jasanya. 

“Tiap hari hanya duduk di sini, sambil tunggu-tunggu penumpang. Walau pun sebenarnya sekarang sudah tidak ada,” ucapnya sedikit tersenyum. 

Alifu tidak sendiri, Kadang ia bersama dengan rekannya sesama papalimbang duduk bersantai dipinggir teluk. Tubuh rentanya tak juga menyerah. 

Agar dapur tetap mengepul, Alifu terpaksa bekerja serabutan, mulai menjadi kuli bangunan hingga menjadi kuli di pelelangan Ikan yang ada di kecamatan Kendari Barat. 

“Kadang kalau ada yang panggil untuk jadi kuli, itu saja yang kita kerja. Mau apalagi, kita semua di sini menggantungkan hidup dari papalimbang ini,” ungkapnya.

Beberapa kali, Alifu mendapatkan penumpang yang sekadar hanya ingin bersua foto di teluk dengan latar jembatan.

Ia mengaku, meski tidak banyak namun keberadaan orang-orang yang masih ingin menggunakan jasa papalimbang membuatnya sedikit senang. 

“Kemarin ada orang, tapi hanya mau berfoto saja. Tidak banyak juga, tapi paling tidak mereka masih mau gunakan jasa kami. Kita mau berharap di situ, tapi hanya satu dua orang saja yang berfoto,” bebernya. 

 

Adu Gaduh yang Acuh

 

Berbagai upaya telah ditempuh Alifu dan papalimbang lainnya, aksi unjuk rasa hingga protes pun telah dilakukan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Namun, hingga saat ini belum mendapat tanggapan, bahkan solusi. 

“Kita minta solusi saja agar bagaimana papalimbang bisa beroperasi kembali, karena hanya ini sumber penghasilannya kami. Hanya itu saja harapannya kita,” ujarnya. 

Sementara itu, Jamaria pemilik pangkalan perahu, mengaku, sejak beroperasi JTK ia harus rela kehilangan pendapatan. Tidak hanya pendapatan dari sewa parkiran perahu, ia bahkan harus menerima kenyataan warung makan miliknya tutup. 

“Selama ada jembatan sudah tidak ada penumpang, semua sudah mengeluh tidak ada lagi penghasilan. Apalagi kami ini hanya bergantung di pekerjaan ini, warung saya juga tutup karena mau layani siapa,” katanya. 

Menurut, Jamaria, sepinya penumpang tidak hanya berdampak pada papalimbang. Akan tetapi, juga berdampak pada tukang ojek yang sehari-harinya mangkal di dermaga tersebut. 

“Di sini ada sekitar 50 papalimbang yang Parkir di sini. Belum ada solusi dari pemerintah kota. Saya punya motor saja juga sudah tidak jalan, jualanku juga mati. Kita ingin di kasih solusi biar bisa jalan lagi usaha kami,” harapnya. 

 

Pemerintah dan Rencana Pemberdayaan Papalimbang 

 

Lima tahun tergeser akibat dampak pembangunan teluk, ternyata Papalimbang tak mampu bangkit seperti dulu. Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 yang kebanyakan penumpang jaga jarak dan ‘ogah’ menumpanginya.

Bisa diprediksi, Papalimbang hanya jadi kenangan, lantaran kalah pamor dengan keberadaan JTK. 

Meski begitu, Pemkot Kendari tak ingin tinggal diam membiarkan usaha ekonomi rakyat tersebut tergerus dan hilang begitu saja.

Walikota Kendari bahkan sudah punya planning untuk menghidupkan kembali papalimbang dengan orientasi wisata.

“Jadi nanti kita tawarkan beberapa aktivitas bagi papalimbang dengan mengembangkan wisata di wilayah Bungkutoko, nantinya di sana akan banyak perahu dan beberapa fasilitas yang akan ditawarkan masyarakat yang kehilangan pencaharian dengan adanya JTK,” ujarnya.

Pemerintah pun akan mendata jumlah papalimbang yang terdampak oleh keberadaan JTK. Hal itu demi menjaga eksistensi papalimbang di Kendari, melalui pengembangan wadah penunjang wisata teluk yang kini sudah dipercantik dengan keberadaan JTK. 

 

Jembatan Teluk Kendari

 

Resmikan JTK, Presiden Sebut Kendari Kaya Akan Potensi
RESMIKAN JTK – Presiden RI Joko Widodo meresmikan jembatan teluk kendari. Dengan diresmikan jembatan ini Kendari memiliki potensi menjadi kota bisnis da pengembangan usaha. Foto : istimewa

Kamis 22 Oktober 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) meresmikan sebuah jembatan dengan bentang kurang lebih 1,3 kilometer dan lebar 20 meter. 

Jembatan yang awalnya diberi nama Jembatan Bahteramas, dibangun di masa pemerintahan Gubernur Nur Alam dan Wakil Gubernur Saleh Lasata, pada 2015 silam dengan biaya konstruksi sebesar Rp804 miliar.

Namun, pada masa kepemimpinan Ali Mazi-Lukman Abunawas, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru. Jembatan tersebut berganti nama menjadi Jembatan Teluk Kendari. 

Pembangunan jembatan ini bukan tanpa kendala, kawasan pecinan yang dikenal dengan sebutan Kota Lama menjadi bagian yang harus rela ditiadakan. 

Beberapa bangunan yang ada di kawasan tersebut, bahkan salah satunya bioskop pertama di Kendari, juga ikut tergusur dengan pembangunan JTK. 

Meski begitu, kini JTK telah menjadi ikon baru di Ibu Kota Provinsi Sultra. Ratusan hingga ribuan orang pun, telah silih berganti mengunjungi jembatan tersebut pasca diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Dari atas JTK, orang-orang bisa menyaksikan keindahan teluk serta pemandangan kota. Bahkan, bisa menikmati matahari terbit (Sunrise) dan matahari terbenam (Sunset) dari atas JTK. ***

 


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *