Jalan Rusak, Pedagang Keliling di Koltim Mengeluh

KENDARIAKTUAL.COM, TIRAWUTA- Memperihatinkan. Berlumpur dan licin. Demikian potret jalan dibeberapa wilayah di kabupaten yang ada di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, manakala memasuki musim penghujan.

Bukan saja warga setempat yang ikut merasakan keresahan atas jalan berlubang dan berlumpur, tetapi para pengguna kendaraan terutama pedagang keliling juga ikut merasakan parahnya kerusakan jalan tersebut.

Salah seorang pedagang keliling, Suha menyatakan, manakala berdagang dari pasar ke pasar, dirinya tidak luput dari jalanan berlubang dan berkubang lumpur.

“Banyak sekali jalan yang rusak. Asalkan pergi menjual ke pasar-pasar pedesaan yang ada di Koltim, pasti saya dapat jalan berlubang dan berlumpur. Bahkan, ada jalan yang saya lalui sudah seperti kubangan kerbau, ” katanya.

Ia menyebutkan, kondisi jalan yang rusak parah berada di wilayah Kecamatan Tinondo. Jalan ini merupakan jalan kabupaten. Selain licin, jalannya pula berlumpur.

Suha terkadang merasa kurang nyaman dengan medan yang dilalui ketika menjajakan barang dagangan. Modal semangatnya redup. Dikalahkan dengan bodi jalan-jalan hancur.

Suha hanya bisa berharap adanya kesadaran tinggi dari pemerintah daerah untuk segera dan tak membiarkan kerusakan jalan di Koltim semakin lama serta bertambah parah.

” Di lorong saya saja boleh dikata berada di dalam ibu kota kabupaten, mobil susah lewat dan sering tertanam. Air hujan saja kadangkala menggenang sampai di rumah warga akibat tidak adanya drainase. Sampai sekarang belum ada upaya pemerintah untuk memperbaiki. Saya berharap pemerintah daerah bisa segera melakukan perbaikan jalan-jalan rusak yang ada di Koltim sehingga perputaran ekonomi kami di Koltim bisa lancar, “pinta Suha.

Kondisi jalan rusak parah juga terjadi di beberapa titik di wilayah Kecamatan Lambandia. Warga susah tuk melintasi terutama menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dinamika ini sebetulnya sudah berlangsung lama bahkan setiap tahun terjadi. Sayangnya, pemerintah setempat kurang tanggap dengan problematika ini. Sementara berbicara anggaran, sejak tahun 2018 lalu, pemerintah daerah Koltim menyisakan anggaran pusat (silpa) hingga mencapai 35 miliar. Dana itu pun terpaksa harus dikembalikan ke kas negara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *