oleh

Jalan Ladongi Seperti Ombak, Perwakilan Bali Salurkan Dukungan ke SBM

KENDARI AKTUAL.COM, TIRAWUTA – Persoalan infrastruktur jalan rusak di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara menjadi satu catatan penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut khususnya dari etnis Bali.

Tak tanggung, salah seorang perwakilan keluarga besar Bali mengalirkan dukungannya untuk perubahan kepada pasangan calon (paslon) Samsul Bahri Madjid-Andi Merya Nur (Merry), pada pemilihan tahun ini.

Dalam pernyataan lisan, Made Margi mengatakan, jalan poros Ladongi kondisinya sangat memperihatinkan. Sudah seperti ombak dilautan jadinya alias bergelombang.

“Kalau kita lewat seperti ombak. Kasian kami. Berlumpur dan berdebu. Olehnya itu, kami sangat menginginkan perubahan di Koltim,” ungkap Margi diacara deklarasi Samsul Bersama Merry (SBM), Kamis (28/7/8/2020).

Disebutkan, pertarungan pilkada tahun ini adalah pertarungan harga diri masyarakat Koltim.

“Tidak ada pilihan lain, selain memenangkan pasangan SBM. Mari kawan-kawan Bali semua kita mendukung dan memenangkan pasangan SBM. Kalau kita tidak melawan maka Koltim akan menjadi buah bibir ditingkat nasional,” tutupnya.

Ia berharap jika pasangan SBM kelak terpilih, sekiranya dapat menjadi pemimpin amanah untuk semua etnis atau semua suku yang ada di Koltim.

“48 tahun lebih kami hidup di Koltim ini, jadi kami harap tidak dipandang sebelah mata,” ucapnya.

Bukan saja Made Margi, aliran dukungan kepada SBM juga datang dari sesepuh masyarakat Koltim, Dalle Effendy. Ia merupakan anak Koltim yang kini dalam perantauan.

Dikatakan, pemimpin yang sekarang ini menjabat pernah bertandang ke rumahnya di Jakarta tujuh tahun lalu. Tetapi janji yang pernah diucapkan semuanya palsu.

“Ada pejabat yang naik ke kampung kami di Tongauna. Dia katakan miskin dan tidak ada apa-apanya. Kalau pemimpin yang mengatakan seperti ini maka sama halnya menepuk bulan, kena muka sendiri. Seharusnya tidak begitu. Kalau bodoh ya pintarkan. Tim tekhnis, tim perundingan Indonesia di sepuluh negara adalah orang Kolaka Timur. Jadi orang Koltim itu tidak ada yang bodoh, hanya tidak dikasi kesempatan. Kalau ada yang menyakiti orang Kolaka Timur, kami yang ada di Jakarta juga ikut tersakiti,”tuturnya.

Dalle Effendy juga melihat pembangunan di Koltim berjalan sangat lambat sejak dimekarkan.

“Tujuh tahun diberi kepercayaan. Dua tahun sebelumnya itu, sudah datang pada saya.Saya sudah bilang sama saudara saya Nur Alam, hati-hati dengan orang ini. Saya liat lain-lain. Tapi tidak dipercaya saat itu. Disini ada campur tangan keluarga, saya tau itu. Bayangkan di youtube saya lihat seorang guru. Guru itu harus kita hormati, tidak dipermalukan didepan murid-muridnya. Saya sangat miris melihatnya,”katanya.

Dijelaskan, sudah saatnyalah Koltim membutuhkan perubahan. Masyarakat dan pemuda Koltim harus bersatu. SBM merupakan pilihan yang tepat untuk membawa perubahan Koltim ke depan.

Dalle berharap kepada Samsul dan Merry ketika kelak jadi bupati maka jadilah pemimpin yang amanah. Menjadi bupati dan wakil bupatinya masyarakat Koltim. Segera melakukan perbaikan sehingga Koltim tidak tertinggal lagi, tetapi dapat sejajar dengan Kabupaten lain. Serta senantiasa mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun Koltim.

Sebelum menghadiri acara deklarasi, Dalle Effendy sempat bercerita, masjid Rate-rate yang pernah mereka kerja bakti diawal mula pendiriannya sudah tidak ada lagi. Ia hanya melihat rangka besi saja yang terpajang.

“Jadi luar biasa, rumah Tuhan saja dirusak apalagi masyarakat. Jadi kedepan kita memperbaiki apa yang salah. Kalau tadi ada dari partai yang mengatakan siap-siap pulang, maka saya juga mau katakan, siap-siap pak, lipat baju untuk pulang tinggalkan Koltim,”celotehnya.

Terakhir, Ia menyatakan bahwa daerah Koltim tidak mempermasalahkan kesukuan. Siapa saja boleh memimpin. Tetapi harus memimpin secara amanah.

Jangan datang memimpin hanya untuk memaki masyarakat Koltim dan lain sebagainya. Sebab jika hal itu dilakukan maka masyarakat akan marah, akan bangkit termasuk dirinya yang ada di Jakarta.

Reporter : Haswin Rangga

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *