Namu, Desa Indah Nan Damai Surga Kecil Jatuh di Bumi Anoa

KENDARIAKTUA.COM, ANDOOLO – Hamparan pasir putih membentang di sepanjang pesisir pantai, airnya jernih berwarna biru bak langit cerah menyejukkan. Desa indah nan damai itu dinamai Namu.

Berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), atau sekitar dua jam perjalanan darat. 

Namu tidak hanya sekadar desa kecil yang menawarkan ke indahn pantainya, lebih dari itu Namu menyimpan banya crita juga wisata air terjunnya yang dinamai Pitu Ndengga yang berarti tujuh undakan. 

Saya berada di sana, Sabtu, 9 Januari 2021. Bersama kawan berombongan, menumpangi kapal bermesin tempel (Katinting), dengan 20 menit jarak tempuh. Meski masih berada di daratan kabupaten Konsel, namun akses untuk menuju desa tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan kapal. 

Namu adalah desa, bagian dari kecamatan Laonti, kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang dihuni sekitar 481 jiwa dengan 121 keluarga,  yang menggantungkan hidup dari bertani dan melaut.

Warga di sana sangatlah ramah, banyak anak-anak yang kami jumpai dan menyambut kami dengan senyum hangat, seperti keluarga yang telah lama mereka nanti kehadirannya. 

Marwah, warga Kota Kendari yang menghabiskan libur akhir pekan di desa itu pun mengaku kagum. Ia terkesan dengan sikap ramah anak-anak di desa itu, bahkan tak sungkan untuk diajak berswafoto dan berkeliling bersama. 

“Meski perjalanan dua jam dan naik perahu cukup melelahkann terbayar dengan alamnya yang Asri.  Pantai serta tempat air terjunnya cukup memuaskan mata, masyarakat sekitar yang cukup ramah. Rasanya ingin berlama lama disana,” katanya. 

Keindahan Alam yang Terjaga Alami

Ketgam: Namu dan keindahan alam yang terjaga alami. Foto: Abdi Sabriansyah/ Kendariaktual.com

Dari desa Langgapulu, kecamatan Kolono Timur, perjalan menuju desa Namu di mulai. Nempuh perjalan dengan transportasi laut, adalah satu-satunya akses menuju Namu. 

Setibanya di Namu, mata akan dimanjakan dengan pemandangan pohon kelapa menjulang tinggi, berjejeran di sepanjang bibir pantai. 

Ada banyak spot-spot menarik untuk berswafoto di sana, terdapat dermaga kayu yang sengaja di buat untuk wisatawan berjalan-jalan. Juga terdapat sebuah spot bertuliskan Namu yang bisa menjadi tempat berswafoto. 

Salah satu pengunjung, Muhammad Hatta mengaku, sangat terpukau dengan keindahan alam desa Namu. Terlebih, katanya, masyarakat di sana sangat menjaga kebersihan lingkungan. 

“Lautnya masih terjaga kebersihannya, warga sekitar juga ramah kepada pengunjung. Dan spot untuk swafoto di desa ini juga banyak, wisata alam air terjunnya sangat bagus, jernih dan menyegarkan'” ungkapnya. 

Air Terjun Pitu Ndengga

Ketgam: Air terjun Pitu Ndengga (tujuh undakan), desa wisata Namu, kabupaten Konsel. Foto: Erviana Hasan/ Kendariaktual.com

Ketika bertamu ke desa wisata Namu, kamu tak hanya bisa bermanja dengan pasir putih, hamparan pohon kelapa yang menjulang di sepanjang bibir pantai dan indahnya pemandangan pesisir pantainya.

Kamu juga bisa menikmati kesegaran dan kesejukan air terjun Pitu Ndengga (tujuh undakan), yang berjarak sekitar 920 meter dari bibir pantai. Menawarkan pemandangan alam yang begitu sejuk dan masih sangat asri.

Di sepanjang perjalanan menuju ke air terjun, kamu dapat melihat kebun-kebun warga yang hampir rata-rata di tanami pohon jambu mente, salah satu tanaman yang menjadi unggulan ekspor Sulawesi Tenggara.

Masyarakat di desa namu juga sangat ramah dengan para pengunjung, hal itu dapat dirasakan saat kamu melintasi jalan setapak perkampungan mereka menuju air terjun, warga akan tersenyum dan menyapamu dengan ramah.

Warga juga kerap membantu para pengunjung yang membutuhkan perlengkapan, terutama perlengkapan untuk memasak. 

Selain itu, warga juga bisa menjadi penunjuk arah saat kamu ingin mengeksplor seluruh keindahan Namu dan akan dengan setia menemanimu.

Perumahan milik warga memang sangat dekat dengan objek wisata, mereka banyak mendirikan rumah di sepanjang bibir pantai.

Masyarakat yang bermukin di desa Namu juga terdiri dari beragam jenis suku seperti, bugis, tolaki dan suku bajo yang terkenal sebagai suku yang mendiami pesisir-pesisir pantai di dunia.

 

Reporter: Erviana Hasan
Editor: Randi Ardiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *