oleh

Program ‘Memory Daun Pisang’ Tony Herbiansyah

KENDARIAKTUAL.COM, TIRAWUTA – Perjalanan panjang Bupati Kolaka Timur, Tony Herbiansyah nampak dirasa. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat duduk di singgasana pemerintah daerah yang mekar tahun 2013 lalu.

Banyak jejak membekas dalam ingatan. Utamanya, tentang program pengembangan ekonomi kerakyatan yang dicetuskan oleh Tony Herbiansyah.

Diantaranya, penanaman singkong gajah tahun, pengembangan kakao, melon dan cabai. Berbagai media mengangkat program yang mengglamor ini. Ramai-ramai memberitakan terobosan dari pemerintah daerah kala itu.

Dirilis dari salah satu media online, Tony Herbiansyah akan menggunakan
lahan warga dalam pengembangan komoditi singkong gajah. Tahap awal, dis…
Berikut, tahun 2018 diluncurkan lagi program pengembangan kakao. Koltim dipilih menjadi daerah percontohan pengembangan komoditi tanaman kakao di Indonesia (secara nasional).

Pemerintah pusat bahkan mengalokasikan dana APBN sebesar 12 miliar untuk pengembangan kakao pada lahan yang disiapkan seluas 550 hektar.

Tak hanya itu, Pemda Koltim bahkan mulai menjajaki pemasaran atau ekspor komoditas kakao hingga menembus ke benua eropa.

Seperti dilansir salah satu media, Bupati Kolaka Timur, Tony Herbiansyah, mengatakan langkah awal untuk pemasaran kakao ke eropa dengan mengirim sampel biji kakao ke Prancis.
Jika diterima dan sesuai dengan permintaan pasar di eropa, baru pemerintah daerah akan melakukan ekspor dalam jumlah yang besar.

Sampel biji kakao yang akan dikirim nantinya melalui Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali, karena sudah memiliki akses terhadap pasar di Prancis.

“Biji kakao yang akan kita kirim sebagai sampel merupakan hasil produksi yang melalui proses fermentasi oleh kelompok Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Desa Tinete Kecamatan Aere,” katanya.

“Pemerintah terus mendorong para petani kakao melalui kelompok LEM Sejahtera untuk terus meningkatkan produksinya, karena kalau penjajakan pasar di eropa memenuhi standar kebutuhan pasar, maka tentunya kita harus siap untuk menerima dan memenuhi setiap permintaan kakao di pasar luar negeri,”katanya.

Sudah melewati pertengahan tahun 2020, ekspor kakao belum juga terealisasi. Program yang pernah diglamorkan hanya sebatas mimpi. Koltim sebagai percontohan kakao secara nasional hanya bisa mengukir cerita.

Berangkat dari itu, pemerintah Koltim juga pernah mengumandangkan budidaya tanaman melon. Dalam panen perdana di Desa Mulya Jaya, Tony bakal berencana menjadikan daerah Koltim sebagai sentra penghasilan melon di Sulawesi Tenggara. Lengkap pula dengan kalkulasi kentungan yang diperoleh masyarakat jika membudidaya tanaman itu. Sayangnya, lagi-lagi program ini tak kelihatan endingnya hingga sekarang.

Sekarang ini, sedang dibesar-besarkan lagi program budidaya tanaman shorgum. Masyarakat dipahamkan dan dicontohkan akan keberhasilan, keunggulan serta keuntungan menanam shorgum.

Semoga saja program ini bisa bertahan dan berkelanjutan. Tidak gonta-ganti lagi. Betul-betul menjadi alternatif dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Bukan sekedar panas-panas tai ayam. Sebentar saja hangatnya lalu dingin selamanya.

Semoga pula, program baru tersebut bukanlah bersifat eksperimen belaka. Tetapi telah direncanakan, dikaji dan dipertimbangkan sematangnya diawal. Sehingga hasilnya bisa riil dirasakan oleh masyarakat Koltim.*

Catatan : Haswin Rangga

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

Berita Terkait