oleh

SBM Sosok Sederhana, Religius yang Dikucilkan Teman Kantornya

KENDARIAKTUAL.COM, TIRAWUTA – Sejak santer diperbincangkan sebagai salah satu bakal calon (balon) pada pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2020, Samsul Bahri Madjid (SBM) menjadi orang yang paling terkucilkan oleh rekannya. Terutama dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) lingkup Pemerintah Daerah Kolaka Timur. Entah itu pejabat eselon III, terlebih lagi kalangan pejabat eselon II. Ironisnya, mereka memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan pribadi Samsul sebelumnya.

Jangankan komunikasi langsung seraya bersenda gurau, ketika melihat wajah lelaki kelahiran 10 Januari 1968 ini, mereka berupaya menghindar. Sekedar berfoto biasa saja dengan Samsul juga sudah tak ada ruang. Semua berubah seketika. Ada rasa takut yang mendalam dibalik suasana itu.

“Saya sampaikan kepada teman-teman, adik-adik saya, kakak-kakak saya yang penting jangan kalian menganggap saya sebagai najis, sampai berjabat tangan saja sudah tidak mau. Kalau bertemu sudah tidak mau melihat saya. Saya juga manusia biasa sama seperti kalian. Persahabatan adalah sesuatu yang sangat indah dan berharga,”kata mantan Pj Sekda Koltim tersebut.

Bagi mantan Camat Tirawuta ini pula, persaudaran, persahabatan, rasa kekeluargaan, tolong menolong, gotong royong merupakan lembaran awal sejarah terbentuknya Kabupaten Kolaka Timur.

SBM Sosok Sederhana, Religius yang Terkucilkan Teman Kantornya
SBM Bersama Tokoh Masyarakat di Kabupaten Kolaka Timur.

Antara masyarakat, tokoh pemekaran, tokoh masyarakat dan pemerintah pada waktu itu bersinergi membangun kultur budaya tersebut. Pemerintah yang dimaksud waktu itu ialah pemerintah yang bertugas sebelum Koltim dimekarkan menjadi kabupaten.

Psikologis kedaerahan nyaris tak tersisa. Pasca pemilihan kepala daerah tahun 2015 lalu, simbolis kultur budaya yang terbentuk retak menjadi serpihan dan sebentar lagi menuju alam kemusnahan.

Meskipun terkucilkan, Samsul tetap tegar menerimanya dengan lapang dada (sabar). Memahami bahwa perubahan sikap dari rekannya bukanlah pembawaan alamiahnya sebagai manusia. Ada sesuatu intimidasi mental yang sengaja dilakukan seseorang untuk merubah karakter itu.

Samsul juga menarik secara positif bahwa apa yang terjadi dengannya adalah bagian skenario Tuhan Yang Maha Kuasa atas perjalanan hidupnya di dunia.

“Saya sangat menyadari bahwa tidak ada manusia itu yang jahat. Bagi saya semuanya baik. Kadangkala, hanya keadaanlah yang bisa menjerumuskan seseorang itu kearah kurang baik. Itulah ujian hidup dan harus saya lalui,”tuturnya.

Terkucilkan pula dari rekan kantor, tak melunturkan kesederhanaan dari diri Samsul. Malahan nilai-nilai silahturahmi semakin terlihat kental. Ia selalu membuka dan berusaha menjalin silaturahmi untuk semua orang.

Disetiap ada kesempatan, Samsul selalu mengisi undangan kegiatan-kegiatan agama bahkan sampai acara keluarga. Misalnya, ceramah ramadhan, tausiah kematian,tausiah pernikahan, ceramah jum’atan, dan lain-lain.

SBM Sosok Sederhana, Religius yang Terkucilkan Teman Kantornya

Samsul memang penuh dengan kehidupan religius. Ia sendiri adalah alumni pondok pesantren Ummushabri Kendari pada tahun 1986. Pendidikan sarjananya didapatkan dari Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas) pada tahun 1991.

Sedangkan Megister atau jejang strata dua (S2) diraihnya Universitas Haluoleo (UHO) Perencanaan Pengembangan Wilayah (PPW) tahun 2012.

Samsul tipe laki-laki yang menyenangi tantangan. Olahraga yang ditekuninya adalah jenis olahraga menantang yaitu bela diri. Ia adalah pemegang sabuk hitam DAN III di karatedo Gojukai.

Mungkin berat dirasakan oleh sebagian wanita ketika sang suami dikucilkan dari rekan kerjanya. Namun bagi pendamping hidup Samsul bernama Diana Massi, hal demikian merupakan seni dalam berkehidupan. Bagi wanita berdarah bugis ini, semua itu telah diatur atau digariskan oleh Allah SWT.

“Kita harus menjalaninya dengan ikhlas serta penuh kesabaran. Serahkan semua pada Allah SWT. Semua ada hikmahnya. Saya sebagai istri hanya bisa mensupport atau mendukung langkah suami,”beber mama Sarah (sapaan Diana Massi).

Diana adalah wanita yang ditujuk Sang Khalik untuk mendampingi Samsul. Ia adalah seorang wanita dengan gelar pendidikan Sarjana Pertanian (SP).

Dari pernikahannya, kedua pasangan ini dikarunia empat orang anak. Mereka adalah Sarah, Aulia, Sabilah, dan Aqifah.

Cerita terkucilnya Samsul dari rekan se-kantornya, bukan sekedar dongeng belaka. Salah seorang pemilik warung makan bernama Grey menjadi saksi atas perlakuan pada diri Samsul.

SBM Sosok Sederhana, Religius yang Terkucilkan Teman Kantornya
SBM Bersama Keluarga

“Biasa kalau pak Samsul mampir makan di warung makan saya, pegawai-pegawai tidak ada yang mau datang makan. Padahal dulu tidak begitu. Ada perubahan drastis di daerah ini. Ada upaya pembunuhan karakter terhadap pak Samsul, “ucap Grey.

Tidak hanya Samsul, Wakil Bupati Koltim, Andi Merya Nur juga ikut terbawa dalam situasi yang sama. Dimana wanita yang perna menjabat anggota dewan ini terkucilkan pula oleh sebagian besar pejabat eselon II maupun eselon III. Politik kurang sehat yang terbangun menjadikan semua itu.

Meskipun ada rintangan seperti itu, Merry (sapaan akrab Andi Merya Nur) telah kokoh membulatkan hatinya akan maju bertarung mendampingi Samsul Bahri di pilkada tahun ini***

Reporter : Adinda Putri Amelia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *